Soft Story Part 2
Now, let's say we shake the table
to the horizontal direction at random and
back and forth.
Sekarang, misalkan kita guncang meja tersebut ke arah
horizontal secara acak dan bolak balik.
With the same shock, it turns
out the two piles of stone have different
behaviors.
Dengan goncangan yang sama, ternyata kedua tumpukan
batu mempunyai perilaku yang berbeda.
The first pile could have survived
during the shaking lasts.
Tumpukan pertama bisa saja masih bertahan selama
goncangan berlangsung.
However, a second stack had collapsed
due to a layer of "false" bricks in the middle of the pile that did not withstand the thrust of "fictitious"
who worked in
the lateral and back
and forth.
Akan tetapi tumpukan kedua sudah runtuh akibat lapisan batu bata "palsu" yang ada di tengah-tengah tadi yang tidak kuat menahan gaya dorong "fiktif" yang bekerja secara lateral dan bolak balik.
Akan tetapi tumpukan kedua sudah runtuh akibat lapisan batu bata "palsu" yang ada di tengah-tengah tadi yang tidak kuat menahan gaya dorong "fiktif" yang bekerja secara lateral dan bolak balik.
This soft layer of brick can be represented as a soft story.
Lapisan batu bata lunak ini bisa direpresentatifkan
sebagai soft story.
If the soft layer
is located on the
top floor, is certainly not a problem.
The problem is if this story is on the soft layer
or the bottom
floor. And ..
Such a fact
is often found in
the field. Why is that?
Jika lapisan lunak ini berada di lantai paling atas, tentu bukan masalah. Justru yang jadi masalah adalah kalau lantai lunak ini berada pada lapisan atau lantai yang paling bawah. Dan.. kenyataannya memang seperti ini yang banyak dijumpai di lapangan. Mengapa demikian?
Jika lapisan lunak ini berada di lantai paling atas, tentu bukan masalah. Justru yang jadi masalah adalah kalau lantai lunak ini berada pada lapisan atau lantai yang paling bawah. Dan.. kenyataannya memang seperti ini yang banyak dijumpai di lapangan. Mengapa demikian?
Here we try to give two examples of factors that caused the collapse because of the soft story.
Berikut ini kami coba berikan dua contoh faktor yang menyebabkan keruntuhan karena pengaruh soft story
A. Abandoned brick wall stiffness.
A. Kekakuan Dinding Bata
Diabaikan.
The buildings such as office buildings, hotels, or apartments, especially in big cities, in general, have a lobby in the basement or ground floor.
The buildings such as office buildings, hotels, or apartments, especially in big cities, in general, have a lobby in the basement or ground floor.
Gedung-gedung tinggi yang bertipe gedung perkantoran,
hotel, atau apartemen, khususnya di kota-kota besar, pada umumnya mempunyai
lobi yang berada di lantai dasar atau lantai ground.
The characteristics of the lobby floor is:
- Height between floors are usually
larger than the typical floors above it. Architects
normally want to look
bigger lobby, spacious, and magnificent.
- Due to wide, then
on the lobby floor, brick walls using relatively
less than in the upper floors
that do require a bulkhead walls between
rooms.
Ciri-ciri lantai lobi adalah :
- Tinggi antar lantainya biasanya lebih besar
daripada lantai tipikal di atasnya. Arsitek biasanya menginginkan hal ini agar
ruangan lobi terlihat lebih besar, luas, dan megah.
- Karena ingin luas, maka di lantai lobi, penggunaan
dinding bata relatif lebih sedikit daripada di lantai-lantai atas yang memang
membutuhkan dinding-dinding sekat antar ruangan.
Vocab
back and forth : bolak – balik (to and fro,
frequently, again and again)
turns out : ternyata
thrust : dorongan (encouragement, boost, urge, impulse, push)
fictitious
: fiktif
withstand : menahan (hold, resist, keep, restrain,
withhold)
stiffness : kekakuan (rigidity, rigor, inflexibility,
awkwardness, clumsiness)
bulkhead walls : dinding sekat
No comments:
Post a Comment